Minggu, 21 Oktober 2012

Lebih Hidup dengan KEBERSAMAAN

                Kebetulan ada di rumah tiba-tiba pengen nulis hal-hal yang ada di rumah. Yaaa meskipun saya nggak bisa menulis secara runtut  ...
Ada yang baru niiih...(gaya afika). Minggu ini ada benda baru di rumah kami, bukan mau pamer atau semacamnya ya..tp mau cerita tentang antusiasnya warga desa saya memfungsikan benda itu.
                Gamelan adalah alat musik tradisonal yang umum banyak digunakan oleh kawula sepuh.  Dan sudah sangat jarang diminati oleh kawula muda. Barang baru yang kita miliki adalah gamelan. Adik saya yang merupakan siswa pedalangan SMKI Surakarta kelas 12 saat inilebih sering latihan untuk tugas akhirnya nanti, sehingga  hal ini yang mendorong orang tua saya untuk membelikan gamelan. Dengan gamelan ini warga dusun kami ikut senang dan merasa ikut memiliki. Hampir setiap malam mereka datang kerumah untuk memainkan musik ini. Betapa senangnya melihat kekompakan mereka yang sudah sepuh sepuh bermain musik dengan begitu mahirnya. Yang datang ditempat kami Tidak semua bisa memainkan musik tapi yang tidak bisa ini juga ikut senang menikmati alunan gendhing yang di mainkan, sesekali mereka juga berlatih minta diajari sama yang sudah mahir. Banyak lelucon yang menyeletuk dari bapak2 bahkan dari eyang2 yang membuat suasana semakin kompak dan rame. 

                Tabuhan umumnya dimulai dari jam 8 malam hingga kurang lebih sampai jam 11 malam.  Gendhing yang dimainkan antara lain adalah ‘’ayak-ayak, wilujeng, tolu dll’’. tetangga tetangga yang mendengarkan dari rumah mengatakan kalau denger gamelan itu rasanya asri banget (kata bu Parni). Adanya tabuhan ini menurut saya dapat meningkatkan rasa kekeluargaan, kekompakan dan kebersamaan antara warga desa. Selain itu juga dapat nguru uri kebudayaan jawa. Tidak sedikit anak anak SD yang ikut melihat dan kadang2 juga nyoba untuk membunyikan satu persatu alat. Ini dapat mengenalkan anak-anak pada alat musik tradisional yang akhir akhir ini kurang diminati anak-anak muda.
       Kusus malam minggu tabuhan untuk mengiringi wayang yang di mainkan oleh adik saya (Qohhar ) sekalian latihan untuk ujian akhirnya nanti. Di malam minggu yang datang lebih banyak, bahkan ibu2 juga datang. 

          Pada hari minggu pagi Gamelan di pukul oleh adik adik yang masih SD. Adik adik ini belajar gamelan untuk memainkan notasi gendhing jawa yang didapat dari sekolah, namun belum bisa praktek secara langsung karena di sekolah belum ada.
          Begitulah kekeluargaan warga desa yang masih di jaga hingga sekarang. Kepedulian yang besar antar tetangga membuat desa kami lebih hidup meskipun jauh dari tempat perbelnjaan dan tontonan2 mewah. Tidak akan berkecil hati kami dikatakan orang kampung yang minim jaringan handphone, susah air, lugu dan tak ber make up layaknya orang kota. Kami masih punya rasa kekeluargaan yang besar dan rasa saling memiliki. Itu yang lebih kami syukuri.

HujanMu Kunanti

Dusun Sambi Desa Johunut Kecamatan Paranggupito Kabupaten Wonogiri..Suatu daerah yang sangat berarti dalam hidup saya, dimana saya mendapatkan ketenangan, kedamaian dan tempat melepaskan rindu setelah senin hingga jumat menumpang di kota Solo. Oktober ini, Awan mendung menaungi Desa kami,yaaah...setelah musim kemarau panjang yang membuat petani beristirahat menggarap tegalannya (lahan kering dengan tanah lebih kemerahan). Awan mendung yang belum pasti menurunkan hujan ini disambut gembira oleh semua orang di desa. Kenapa semua orang desa??karena memang penghuni desa kami adalah petani yang mengandalkan air hujan sebagai topangan hidup kami, baik untuk keperluan sehari-hari atau untuk menumbuhkan benih padi dan tanaman lain yang merupakan sumber penghidupan kami. 

                

      Saat kemarau petani di desa kami istirahat menggarap sawahnya, bukan istirahat yang sebenarnya. Namun dibandingkan pekerjaan yang dilakukan di musim hujan yang begitu menguras tenaga, di musim kemarau lebih bisa sedikit beristirahat karena rakyat kecil di desa kami hanya memanen singkong dan mungkin ada sebagian yang panen kacang tholo. Dengan matahari yang begitu menyengat mereka mencabut panenan singkong. Semangat mereka begitu besar, tanpa merasakan lelah mereka setiap hari pergi ke tegalan untuk melakukan apa saja yg bisa mereka lakukan untuk meningkatkan hasil panennya di musim hujan yang akan datang. Suatu proses yang luar biasa..
                Setelah pemanenan singkong selesai petani di desa kami melakukan persiapan lahan tegalan untuk ditanami padi, kacang, jagung atau singkong di musim hujan yang akan datang. Persiapan lahan ini dinamakan Besik yang dilakukan dengan cara membersihkan apa saja yang ada di lahan tegalan, pada umumnya adalah menyapu dan menghancurkan tanah yang bergelondong (lemah lungko) akibat dari pencabutan singkong pada tanah yang keras. Pemupukan dengan pupuk kandang juga dilakukan pada saat Besik ini.
tegalan dengan tanah kering
tanaman meranggas

            Menanti, menanti, dan menanti musim hujan... Oktober datang,,hujan belum juga turun,,namun mendung sudah menghampiri desa kami. Hal ini sudah  disambut para petani dengan menanam padi, meskipun hujan belum turun,,namun setidaknya para petani sudah punya harapan besar untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan mereka yang hampir semua kebutuhan dihasilkan dari panenan .
Kalau hujan udah datang para petani di desa kami akan sangat super sibuk, dari pagi hingga hampir magrib mereka di tegalan. nDangir (menyiangi rumput gulma) adalah kegiatan pertama yang dilakukan setelah tanaman tumbuh, selanjutnya dilakukan pemupukan berkala. Namun ada juga yang hanya sekali pemupukan atau tidak sama sekali di pupuk. Hal ini disebabkan karena tidak cukupnya uang untuk membeli pupuk yang semakin mahal.  

Salut dengan kerja keras mereka. Tingkatkan rasa syukur kami ya Rabb, dan Semoga semua yang kami lakukan di desa ini Engkau hitung sebagai ibadah.

Kamis, 11 Oktober 2012

its like ''Malaikat'' berSayap sesungguhnya. "BIRDWATCHING''

               Indonesia kaya akan flora dan fauna, sehingga banyak kegiatan atau hobi yang memanfaatkan kekayaan flora dan fauna ini. Salah satunya adalah Birdwatching. Birdwatching dalam arti sederhananya adalah melihat keindahan warna warni burung, menikmati kicauannya dan mempelajari sifat-sifat dari setiap spesies, dengan tujuan tidak lain untuk konservasi.
               Tanggal 29 September 2012 kemarin ''Kepak Sayap'' Mipa UNS mengadakan Latihan Dasar Birdwatching diTaman Hutan Raya Ngargoyoso. Kepak sayap adalah kelompok studi yang ada di MIPA UNS yang memberikan ruang pada mahasiswa yang peduli terhadap kelestarian burung. kegiatan  Latsar yang diagendakan kepak sayap ini menekankan tentang etika birdwatching, karena memang kegiatan ini masih banyak diikuti oleh orang orang yang masih awam tentang birdwatching khususnya saya sendiri.


               Kegiatan ini diawali dengan sharing dan pembekalan cara-cara birdwatching dengan senior mas andika yang dulu pernah menjabat di Kepak Sayap juga.Perlengkapan yang perlu dibawa adalah
1. Binokuler/monokuler
2. Buku catatan
3. Buku identifikasi burung
             Selanjutnya sekitar pukul 15.00 wib mulai pengamatan burung dan dibagi menjadi 3 kelompok. Saya mendapat bagian kanan dari aula Tahura naik keatas, Ditahura ini di dominasi oleh tumbuhan pinus.Kelompok kami berjalan mengendap untuk tidak mengganggu aktivitas burung, sebagian dari kami juga sering menirukan suara burung. Pada pengamatan sore tersebut tidak banyak burung yang bisa dilihat burung pertama yang dilihat adalah Srigunting. Memang pada sore itu burung yang dijumpai kebanyakan adalah srigunting, kutilang dan walet gunung.

            Malam harinya kami mendiskusikan burung yang kita amati pada sore itu, ternyata masih banyak etika birdwatching yang kurang dipahami seperti menirukan suara burung yang kurang pas, tertawa dengan keras, memakai pakaian yang mencolok, bahkan masih suka berteriak untuk memanggil teman kelompok lain yang jauh dari wilayah pengamatan kami(Big Cooooo*aaaaa!!!!!). Sehingga mungkin menyebabkan terganggunya burung-burung. Evaluasi yang lain adalah kami tidak mencatat populasi burung yang kita temukan dan tidak menSketsnya.hhhhmmmm...masih terlalu awam memang..
           Sebenernya gimana sih tips birdwatching yang bener???..menurut buku MacKinnon (kitabnya Birdwatchers..)seperti ini nih :
1. Mengenakan pakaian yang tidak mencolok,misal warna hijau tua, atau hitam agar tidak mengganggu aktivitas burung.Hindari warna putih (malah saya pake kaos warna putih..errrrrrrr -_- )
2.  Menggunakan sepatu atau sandal gunung yang safety. Kenakan pula kaos kaki karena di hutan hujan tropis lembab dan banyak pacet biasanya.
3. Kelembaban hutan hujan tropis akan menyebabkan masalah pada binokuler, kamera dan kacamata. Simpan barang tersebut pada plastik dengan dibungkus kain atau kertas kering.(kacamata burhan sama revo sering2 di lap aja ya....^_^)
4. Pada saat pengamatan burung lakukan perjalanan yang lambat, berusaha untuk tidak melewatkan obyek satupun karena banyak burung seperti paok, sempidan, anis dan ayam hutan sangat waspada dan dapat mendengar suara asing dari jauh,sehingga akan cepat menghilang sebelum dilihat.Namun perjalalanan cepat dan tidak berisik perlu dilakukan juga ding..agar burung semacam itu tidak terlewatkan.
5. Bersabar menunggu sambil beristirahat juga hal yang menguntungkan sambil mengamati sekitarnya.
6. Minimalkan pembicaraan dengan teman.
7. Membuat catatan lapangan pada saat pengamatan untuk mencatat hal-hal yang penting seperti waktu pengamatan, lokasi, burung yang masih asing, dan tingkah laku ataupun tentang makanannya. 
8. Sebaiknya dalam kelompok birdwatching hanya terdiri dari 2-5 orang saja.

             Pagi, pukul 06.00 kelompok saya mulai melakukan pengamatan kembali di lokasi yang sama dengan menggunakan binokuler. Kali ini karena waktunya juga tepat yaitu pagi hari, kami lumayan menemukan banyak spesies burung. 
Kenapa waktu yang tepat adalah pagi hari??...
Karena burung paling aktif saat pagi hari. Sore hari dapat juga dilakukan, namun biasanya burung yang dijumpai tidak seaktif di pagi hari. Burung yang pertama kami lihat adalah kutilang (Pycnonotus aurigaster) dengan topi hitam tunggir keputih putihan dan tungging jingga kuning, yang dijumpaii sebanyak 5 ekor. Kemudian dilihat pula walet gunung (Collocalia esculenta) yang memiliki bentuk lebih ramping. Diujung pohon kering kami melihat Caladi sebanyak 3 ekor, namun untuk spesies tepatnya kami masih ragu ^_^. Setelah lebih naik ke bukit, mas andika melihat kekeb babi ( Artamus leucorhynchus ) yang memiliki ciri tunggir putih, paruh tebal kebiruan dan sayap lebar segi tiga ekor tidak menggarpu, sebanyak 1 ekor. Kemudian mas gembul menyaksikan Elang hitam (Ictinaetus malayensis) sebanyak 3 ekor,namun  terlihat masih kecil. Sayangnya saya tidak melihat langsung hanya dari kamera SLRnya ms gembul yang sempat diabadikannya. O..banyak kemiripan antara alap alap dengan elang, hal yang membedakan dengan jelas adalah pada saat swaring sayap burung elang terlihat menjari, berbeda dengan sayap pada alap alap yang terlihat rata.
          Masih dilokasi yang sama, diatas bukit dengan pohon pohon pinus, kelompok kami melihat burung tekukur satu ekor, cirinya kurang jelas karena hanya sekilas melintas. Kelompok kami juga melihat burung dederuk jawa (Streptopelia chinensis). Dan saat kelompok kami turun menuju taman di kanan aula teman kami teguh melihat burung diduga burung cekakak, namun belum pasti spesiesnya apa. Pada pengamatan kami banyak dijumpai burung srigunting (Genus Dicrurus) namun masih kebingungan antara Dicrurus paradiseus, Dicrurus annectans atau Dicrurus macrocercus karena kami masih sulit membedakan antara bentuk ekornya yang mirip, dan ciri lain pun kurang begitu terlihat. Binokuler kami menangkap 5 ekor srigunting dengan tempat yang berbeda. Burung terakhir yang diamati adalah 1 ekor burung pentet. 
           Seharusnya untuk mengidentifikasi burung yang benar didasarkan pada kombinasi dari beberapa ciri khas, termasuk penampakan umum, suara, dan tingkah laku. Juga penting untuk mencocokkan sebanyak mungkin bagian burung, terutama ciri diagnostik jika diketahui.Harus mengingat sifat yang paling mencolok tanpa melupakan ciri yang lain.
Untuk burung yang  baru atau belum dikenal, harusnya dibuat sketsa dalam buku catatan. tidak perlu bagus yang penting menggambarkan  berbagai ciri, termasuk suara dan lokasi dimana burung tersebut ditemukan(comot setelah baca buku MacKinnon)


            Pengamatan kami berakhir pada pukul 08.00 (hwaaaa... lapaaarr) dan dilanjutkan sarapan dengan mie instan. Acara selanjutnya adalah evaluasi dan sharing tentang burung yang dijumpai oleh kelompok lain. Ternyata masih banyak spesies burung yang berbeda yang dijumpai oleh kelompok lain. 

             Meskipun ilmu sudah disampaikan tapi saya masih sangat awam untuk melakukan birdwatching suatu saat nanti.Masih banyak pula kesalahan kesalahan saya yang bersangkutan dengan etika birdwatching. Perlu semangat belajar dan berjalan-jalan;;;kyaaaa..

            Mengamati burung di alam lepas sangat menyenangkan, banyak keuntungan yang di dapat dari satu kegiatan ini, yaitu olah raga, menyalurkan keinginan jalan-jalan dan berpetualang, kesenangan tersendiri dengan melihat warna warni keindahan burung dan suaranya yang merdu. Dan yang terpenting bisa mendorong untuk konservasi baik burung itu sendiri atau vegetasi hutan yang merupakan habitat untuk kelestarian burung. Karena burung merupakan salah satu indikator kelestarian lingkungan.




#sebagian foto dr Kepak Sayap
untuk mengambil foto burung kamera tidak memungkinkan
 


Selasa, 18 September 2012

Pesona Merapi dalam ''Fun Tracking''


     Ingat september tahun lalu saya merangkak di Gunung Lawu, dan tidak disangka September tahun ini merangkak menaiki gunung Merapi yang merupakan gunung api teraktif di Indonesia. Sebelumnya saya di kasih info sama mas gentar kalo ada pendakian masal "Fun Tracking" yang diadakan tanggal 15, 16 september 2012 oleh Ajusta Brata FTeknik UNS. Ini merupakan agenda tahunan yang diikuti oleh masyarakat umum. Dan pada dasarnya saya suka naik gunung, tapi ruangnya yang ga punya. Naaah.. dengan adanya info ini saya bener2 tertarik banget untuk mengikuti fun tracking ini. Awalnya agak khawatir dengan teman mendakinya nanti, soalnya saya yang merupakan pendaki pemula, untuk mendaki masih tergantung dengan teman, karena menurut saya keberhasilan dan kenyamanan mendaki itu dipengaruhi oleh teman kita saat mendaki, kalo temannya enak dan bersahabat maka mendakipun semangat dan terasa tidak begitu melelahkan. Berhubung Fun Tracking ini merupakan pendakian masal, yang nantinya diikuti oleh orang-orang baru yang sama sekali tidak saya kenal, akhirnya saya menyambungtularkan info fun tracking ini sama temen, dan 2 temanpun tertarik mengikuti, Ophi dan Thiara.

        Biaya pendaftaran Fun Tracking 70 ribu dengan fasilitas kaos, makan 2 kali,transportasi, dan servis dari panitia yang sangat ramah. Untuk barang yang harus dibawa : Senter, Snack, Baju hangat, slayer atau masker, P3K, Jas hujan, kaca mata, Dome.Berangkat tanggal 15, di sms oleh panitia jam 2 siang kumpul di sekre Ajusta Brata untuk registrasi ulang, udah ga sabar pengen berangkat, eh..ternyata malah masih diberngkatkan jam 4 sore. Perjalanan ke Selo naik truk, ini kedua kalinya saya naik truk semenjak SMP waktu mengikuti drum band di kabupaten.Sangat menyenangkaaaaaan!!!! Berpuluh-puluh kilometer tanjakan di lalui di bak truk.
      Akhirnya magrib sampai juga di base camp, sholat,makan, breafing, perkenalan dan pembagian kelompok. Saya masuk di kelompok 1 dengan pendamping sdr adit dan cahyo.  

O iya,sebelum berangkat Mendaki :

1. Biar perut nyaman saat awal pendakian, sebaiknya makan 30 menit-1 jam sebelum pendakian.

2. Minum secukupnya saja,mending nanti minum sedikit-saat mendaki.

3. Buang air kecil/besar dulu,soalnya kalo udah mulai pendakian kerasa,ribet banget. 

4. Saling berkenalan setidaknya satu kelompok agar bisa saling menjaga saat mendaki.

5. Berdoa.....dan

Kelompok satu BERANGKAT!!!!!!!!

      Jam sembilan kelompok satu berangkat. Pendakian menuju pos satu disuguhi medan yang berdebu,benar benar hanya pasir yang halus dengan dikelilingi ladang tembakau. Untuk menyayangi paru-paru harus mengenakan penutup hidung.  

1. Sebaiknya penutup hidung adalah masker lab (yg biasanya warna hijau) soalnya kalo pakai slayer malah sulit untuk bernafas, jd malah akirnya ga dipake. 

2. Meskipun saya pake sandal, tapi sebaiknya untuk yang mau mendaki merapi menggunakan sepatu, itu lebih safety dengan medan yang berpasir.

      Perjalanan menuju pos satu merupakan perjalanan yg dirasa paling melelahkan, serasa bernafas itu ga bisa lega. Karena mungkin memang belum ada penyesuaian, itu wajar. Jadi jangan langsung menyerah di pos 1, dicoba dulu naik, nanti lama2 tubuh sudah bisa menyesuaikan dan perjalanan selanjutnya ke atas dirasa tidak begitu melelahkan. Selain itu becandaan temen2 dan pendamping kelompok yang juga saling memberikan semangat sangat membantu psikis kita untuk tetap fun. Sampai pos 1 istirahat lumayan lama. minum susu dan teh anget yg disediakan oleh panitia...segeeeeerrrrrr... ^_^
      Perjalanan ke pos 2.....Perjalanan ke pos 2  tepat kalau dinamakan merangkak,karena didominasi oleh kerikil2 dan bisa dikatakan tidak ada datar2nya. Sehingga....

Untuk menjaga tangan biar ga lecet gunakan sarung tangan, selain itu sarung tangan juga dapat melindungi dari dinginya perjalanan naik ke pos 3 atau tepatnya pos camp Pasar Bubrah. 

      Merangkak dari pos 1 hingga pos 3 pendamping (mb reska, ms cahyo,mb reni) begitu telaten mendampingi kelompok 1 yang masih tertinggal,, kelompok 1 yang paling belakang hanya saya dan ophi, bentar-bentar kita istirahat, sembari maenikmati gemerlap lampu kota solo, boyolali dan magelang yang memanjakan mata. Namun Pada suatu saat kami istirahat ada pendaki lain yang ada tepat diatas kami menjatuhkan batu segede kepala...dengan bergaya seperti lara di Tom Rider saya menghindari batu yg jatuh dari atas dan berteriak Ophiii awaassss..karena ophi jg tepat di bawah saya. Batupun bisa dihindari.alhamdulillaaahh..

(Untuk pendaki, waspada kejatuhan batu dari pendaki yg diatasnya, sebaiknya perhatikan pijakan batu tersebut kuat atau tidak untuk dipijak). 


 

     Track mendekati pasar bubrah beda lagi dengan track sebelumnya, angin mulai bertiup sangat kencang, dinginpun mulai terasa menusuk tubuh (wuaaah). Bukan lagi pasir dan batu batu kecil, tapi berupa batu batu besar sehingga harus mlipir2, karena kanan kiri merupakan jurang dengan semak2 yang lebat. Tetapi beda lagi saat tiba di bukit samping pasar bubrah sudah tidak ditumbuhi pohon karena bekas aliran lahar, sehingga hanya terdiri batu dan pasir.

   Eh,,kenapa disebut pasar bubrah??Belum terjawab juga pertanyaan saya mengenai itu, namun Pasar Bubrah itu sendiri adalah area bebatuan yang sangat luas yang berada tidak jauh dari puncak dan tepat di bawah puncak. Biasanya di Pasar Bubrah inilah para pendaki mendirikan tenda.

 

di pasar bubrah mulai terlihat adanya suksesi, sudah mulai tumbuh beberapa pohon semacam pohon cantigi (Vaccinium varingiaefolium).  Juga belum terlihat hewan apapun disekitar pasar bubrah.

dan akhirnya....

    Sekitar pukul 02.00 sampai juga di camp pasar bubrah (pos 3). apa yang terjadi....????
tidak kebagian dome..ya..beginilah derita kami yang datang belakangan. Untung beribu untung..sebelum berangkat saya dipinjami SB oleh mb antika. Gimana jadinya kalo nggak...saya dan ophi tidur dengan SB yang beralaskan MMT, beratapkan langit dengan beribu bintang ^_^.eh.....bukan disebut tidur ding,mata merem,,tapi badan ga bisa berhenti menggigil kedinginan. But...unforgettable moment,,semua yang dilakukan adalah pengalaman yang sangat berharga.
      Pendakian menuju puncakdilanjut lagi pukul 04.00 wib, segera bereskan SB dan kembali merangkak menuju puncak. Ini merupakan medan klimaks dari medan yang dilalui sebelumnya. Saya mengistilahkan seperti tumpukan pasir dengan diselingi beberapa batuan yang rapuh. 


     Yang perlu diperhatikan adalah pemilihan track yang tepat sangat membantu untuk menuju puncak lebih cepat. Sebaiknya memilih jalur yang terdiri dari batu2an besar. Karena jika memilih jalur aliran lahar yang terdiri dari pasir2 kecil akan susah untuk berpegangan atau memijak. Sebelum berpijak atau berpegangan sebaiknya memastikan terlebih dahulu batu itu kuat atau tidak. Jika tidak maka akan mengancam keselamatan diri sendiri yang mengakibatkan jatuh ke jurang,keselamatan pendaki yang ada dibawahnya juga akan terancam dengan kejatuhan batu yang kita injak. Lebih tepat lagi kalau sebelum berangkat menuju puncak dijelaskan ke team pendaki terlebih dahulu tentang cara mendakinya dengan formasi zig zag, sehingga dapat memperkecil resiko kejatuhan batu dari pendaki yang ada di atasnya.

      Dan akhirnya saya dan ophi hanya merangkak sampai tengah, dengan ada peristiwa ophi terperosok dan hampir terguling jatuh kebawah, karena hanya tangannya saja yang berpegangan. Selain itu banyaknya batu yang berjatuhan dari atas membuat ngeri untuk melanjutkan pendakian sampai puncak. Bahkan pada saat sholatpun, batu2 barjatuhan dari atas.pasraaaaaaaahhh....O Iya,tidak lupa mengabadikan setiap moment dengan kamera ophi.
     Turun dari jalur puncak dengan ngesot karena takut kegebrus. Sampai camp pasar bubrah lagi, kembali foto2 dengan gaya yang selalu diulang ulang. -_-


      Pukul 07.00 wib sebagian rombongan Penmas memutuskan untuk turun duluan. Dan Baru disadari bahwa trek yang dilalui semalam adalah seperti itu, berdebu dan kanan kiri tebing yang curam. Tidak beda jauh pada saat mendaki, pada saat turun juga banyak beristirahat. Singkat cerita.....
ALHAMDULILLAH...
Akihirnya sampai di NEW SELO, turun pelan pelan dan akhirnya sampai di Base Camp.
 

Ala nisa :

1. Jangan lupa ucapkan syukur pada ALLAH SWT

2. Ngaca, tidak mungkin jika muka tidak hitam dengan debu yang tebal.

3. Segera sholat, karena kalau udah berhenti lama bakalan males untuk berdiri.

4. MAKAN...

 

Unforgettable experience, Thanks God, this is part of my life,may ALLAH give me another chance to enjoy his creations. Terima kasih juga ophi, thiara, tiya, mas gentar and kakak2 AjustaBrata ^_^.

Bukan seberapa tinggi puncak yang kita capai, tapi setinggi apa usaha kita untuk menjaga keselarasannya.

       

 

 


Kamis, 24 Mei 2012

ORNITOLOGI BIRDWATCHING

Keanekaragaman Burung Di Habitat Yang Berbeda Di Sekitar Surakarta 


       Indonesia merupakan negara yang mempunyai kekayaan burung yang sangat besar. Namun sayangnya, Indonesia juga memiliki daftar panjang burung yang terancam punah. Dewasa ini, pandangan masyarakat tentang burung dan pemanfaatannya mulai mengalami pergeseran. Pada saat ini banyak masyarakat yang sangat menggemari burung dengan cara menikmati kicauan burung dalam sangkar, di lain pihak mulai bermunculan kelompok-kelompok pecinta burung yang menikmati keindahan burung di alam bebas. 

     Kegiatan ini dikenal dengan sebutan birdwatching atau birding. Kegiatan birdwatcing baik dilakukan untuk mengetahui informasi tentang burung sehingga kedepannya aka nada kegitan perlindungan terhadap burung dan habitatnya. Kegiatan ini tidak mengancam kelestarian burung itu sendiri, karena hanya menikmati keindahan burung baik dari perilaku maupun suaranya yang merdu di alam bebas tanpa mengganggu kehidupan burung. Berbeda dengan kegiatan masyarakat yang mengancam kelestarian burung seperti perburuan burung untuk dikonsumsi. Masyarakat banyak memanfaatkan burung dan aves pada umumnya sebagai sumber makanan yang kaya protein hewani. Hal ini yang menyebabkan terjadinya kepunahan burung. Selain itu, sekarang banyak pecinta burung dalam sangkar yang dipelihara karena nilai prestise-nya.

      Meningkatnya penggemar burung dalam sangkar juga dapat menyebabkan keanekaragaman burung di habitat aslinya semakin berkurang, sehingga peranan burung sebagai salah satu komponen ekosistem juga mempunyai peran ekologis yang sangat penting semakin berkurang di habitat aslinya. Sehingga perlu adanya pemahaman mengenai kehidupan dan perilaku burung untuk menjaga kelestariannya. Pemahan mengenai burung dapat dilakukan dengan mempelajari secara langsung kehidupan burung. Dalam mata kuliah Ornithologi ini untuk memahami perilaku, sifat dan habitat burung di suatu daerah maka dilakukan pengamatan burung di berbagi tempat yang keadaan lingkungannya berbeda.

 Dalam pengamatan mata kuliah Ornithologi ini terbagi tujuh kelompok untuk mengamati burung di habitat yang berbeda, yaitu : 

 ‎1. Lokasi di persawahan (persawahan di sekitar perum UNS Triyagan Sukoharjo)

  Pengamatan di area persawahan dilakukan di Perumahan UNS IV Triyan Sukoharjo pada tanggal 10 Mei 2012 jam 08.00-09.00. Kondisi di area persawahan yaitu sawah masih banyak ditumbuhi oleh padi-padi yang menguning dan belum banyak padi yang di panen, sehingga masih banyak padi yang merupakan lading makanan untuk burung pemakan biji bijian. 

     Dari pengamatan yang dilakukan ditemukan 4 jenis burung yaitu Burung pipit yang jumlahnya kurang lebih 25 ekor, burung pipit ini memakan padi yang menguning, sehingga habitatnya berada di daerah persawahan. Didapati burung pentet yang sedang bertengger di dahan bambu dekat sawah, burung ini merupakan burung pemakan biji-bijian,serangga,ulat,kroto. Ditemukan juga burung gereja dan burung wallet, burung gereja suka hinggap di pohon pohon dekat sawah dan burung wallet yang sering terbang rendah di sekitar padi. Dari pengamatan yang dilakukan populassi burung pipit paling banyak, karena burung pipit makan pokoknya adalah biji-bijian sehingga, tempat keberadaan burung pipit tidak jauh dari makananya yaitu area persawahan. 

 2. Lokasi di tempat ramai yang banyak dinaungi pohon besar (Keraton Solo) Pada

  Pengamatan di tempat ramai yang banyak dinaungi pohon besar, dilakukan di wilayah keraton Solo. Bagian keraton dibagi dua lokasi pengamatan yaitu di bagian sekitar alun-alun utara Solo dan di Keraton Siti Inggil. Di Alun-alun utara pengamatan dilakukan pada tanggal 6 Mei 2012 jam 08.00-10.00.

 Hasil pengamatan yaitu ditemukannya empat jenis burung yaitu : Burung Sriti, burung gereja, burung erasia, dan burung bondol jawa. Pengamatan yang kedua dilakukan di Keraton Siti Inggil pada tanggal 6 Mei 2012 jam 08.00-10.00. Hasil pengamatan yaitu ditemukannya enam jenis burung yaitu : Sriti, bentek kelabu, perenjak padi, bondol peking, kipasan belang, dan tekukur. Dari dua bagian pengamatan jumlah jenis yang ditemukan di keraton Siti Inggil lebih banyak, karena di daerah ini masih banyak dinaungi pohon besar. 

 3. Lokasi di dekat jalan raya (Boelevard UNS, Jl. Ir Soetami) 

      Lokasi pengamatan selanjutnya adalah di dekat jalan raya. Dalam pengamatan ini dipilih di daerah Boelevard UNS, Jl. Ir Soetami. Dilokasi ini merupakan jalan raya yang cukup ramai karena merupakan jalan penghubung antar propinsi, sehingga juga berpengaruh pada keberadaan burung. Pengamatan dilakukan pada hari Kamis 10 Mei 2012 jam 9.00-10.00 WIB. 

      Dari hasil pengamatan dijumpai 4 jenis burung yaitu : Emprit, kutilang, Sriti, Gereja erasia. Di lokasi pengamatan ini tidak terlalu banyak jenis burung yang ditemukan. Burung yang ditemukan merupakan burung yang pada umumnya hidup di pepohonan dan di daerah perumahan. Dari sedikitnya spesies yang ditemukan ini kemungkinan disebabkan karena habitatnya tidak sesuai dengan jenis jenis burung tertentu. Sehingga hanya dijumpai burung yang dapat menyesuaikan diri pada kondisi tersebut.  

4. Lokasi di sekitar perumahan (perumahan Ngoresan , Jebres, Surakarta) 

       Untuk pengamatan di sekitar perumahan di ambil tempat yaitu perumahan Ngoresan , Jebres, Surakarta, di daerah ini tidak banyak dijumpai pohon-pohon besar namun di dekat daerah ini terdapat lokasi yang masih banyak pohonnya yaitu di sekitar kuburan Cina. Sehingga meskipun di daerah perumahan, namun lumayan banyak dijumpai jenis burung. Enam jenis burung masih bias dijumpai di daerah ini. Pengamatan dilakukan pada tanggal 10 Mei 2012 jam 7.00-09.00. Dari pengamatan dijumpai enam jenis burung, yaitu : Burung wallet sapi, gereja, merpati, emprit, blekok sawah, kutilang. Burung merpati ditemui di atap rumah, sehingga dimungkinkan merpati tersebut merupakan burung yang di ternakkan oleh warga. Burung gereja dan emprit banyak yang hinggap di pepohonan yang masih ada. 

 5. Lokasi di taman kota (Taman Kota Balekambang) 

     Pengamatan selanjutnya dilakukan di Taman Kota Balekambang. Kondisi di bale kambang merupakan habitat yang paling bagus dibandingkan dengan enam stasiun pengamatan yang lain. Karena di Taman Balekambang ini masih banyak vegetasi yang sangat cocok untuk kehidupan burung. 

      Sehingga banyak burung yang ditemukan di daerah ini yaitu : Burung merpati, ayam, kalkun, gereja erasia, kutilang, angsa, sriti, merbah, kaca mata, burung prenjak jawa, dederak jawa, pelatuk, dan burung cabe. Burung yang ditemukan di lokasi ini ada yang sebagian di pelihara oleh pengelola taman dan ada juga burung yang liar. Misalnya burung kalkun, ayam, merbah merupakan burung yang dipelihara di taman Balaikambang. Namun ada pula brung yang liar berada di atas pohon seperti burung sriti, pelatuk dan burung gereja. Ada pula burung yang memang di tangkarkan di taman ini salah satunya adalah burung kaswari, kakak tua, elang bondol dan masih banyak lagi.  

6. Lokasi di pedesaan yang masih banyak vegetasinya (Bekonang dan Pandean, Gemolong)

  Daerah pengamatan selanjutnya adalah di pedesaan yang masih banyak vegetasinya. Lokasi yang dipilih adalah di Bekonang,Baki dan Gemolong. Pengamatan di Bekonang dilakukan pada sore hari jam 16.00-17.00 WIB. Didaerah ini merupakan daerah pedesaan yang lumayan masih banyak pohon, namun juga banyak terdapat persawahan sehingga burung yang diamati tidak jauh berbeda dengan yang berada di daerah persawahan. Burung yang dijumpai yaitu burung cici padi dan burung gelatik, kedua burung ini ditemukan dalam jumlah yang banyak, yaitu kurang lebih 30 ekor. Pada saat pengamatan cuaca sedang gerimis sehingga kemungkinan burung tidak kelur, jadi hanya dijumpai 2 jenis burung di lokasi ini. Lokasi yang kedua adalah di daerah Baki, Pandean. Pengamatan dilakukan sekitar jam 9.00 WIB. Burung yang ditemukan adalah emprit ganthil, prenjak, sriti, dan puyuh. Kondisi alam di daerah ini masih banyak pepohonan yang besar. Sehingga jika dilakukan pengamatan lebih pagi akan lebih banyak dijumpai jenis burung. 

     Lokasi pengamatan berikutnya di Gemolong, Sragen dilakukukan pada pukul 05.00-05.30 WIB. Di lokasi ini banyak pepohonan namun tidak terlalu banyak burung yang dijumpai. Dapat dikarenakan pengamatan yang terlalu pagi. Burung yang ditemukan di Lokasi ini adalah cici padi, gagak jawa, ayam, dara. Ada burung yang menarik yang dijumpai di lokasi ini yaitu burung gagak jawa. Burung ini jarang ditemukan di daerah perkotaan atau daerah yang ramai. Sehingga dapat disimpulkan bahwa lokasi pengamatan ini masih sesuai untuk dihuni oleh populasi burung. Ayam dan burung dara yang ada merupakan burung yang dipelihara oleh masyarakat. Sehingga kehidupannya tidak terlalu bergantung kepada lingkungan.  

7. Lokasi di tempat keramaian (Terminal Tortonadi) 

      Tujuan pengamatan yang terakhir adalah di daerah keramaian, lokasi yang dipilih adalah di sekitar terminal Tirtonadi. Kondisi di lokasi ini sangat ramai karena merupakan jalur lalu lintas dari berbagai kota. Selain itu juga merupakan tempat transit orang-orang dari berbagai daerah sehingga keadaanya sangat ramai. Burung yang dijumpai di daerah ini yaitu : burung dara, burung wallet sapi, gereja, emprit, dederuk jawa. Namun burung yang dijumpai masih tergolong banyak. Hal ini dikarenakan adanya keseimbangan antara kondisi yang ramai dan padat, namun masih banyak pepohonan di sekitar terminal Tirtonadi. Seperti di depan terminal juga banyak pohon besar yang rimbun. Selain itu lokasi ini dekat dengan taman kota Balekambang, sehingga burung-burung dekat untuk mencari tempat yang sesuai setelah berada di derah keramaian.  

Hubungan Keanekaragaman Populasi Burung di Habitat yang Berbeda pada Tujuh Lokasi Pengamatan 

         Struktur vegetasi merupakan salah satu faktor kunci yang mempengaruhi kekayaan spesies burung pada tingkat lokal (Wiens 1989). Hubungan yang sangat erat antara komunitas burung dengan indeks keragaman habitat menunjukkan bahwa burung sangat tergantung pada keragaman kompleksitas dari pohon, tiang dan semak (Chettri et al 2005). Ada perbedaan struktur komunitas burung pada daerah yang mempunyai struktur vegetasi yang berbeda, ataupun antara vegetasi alami dengan yang terganggu (Paerman 2002). 

         Kondisi vegetasi yang baik menjadikan banyak jenis yang tinggal di area tersebut, menurut Pudyatmoko (2006) penutupan vegetasi yang baik pada suatu kawasan hutan akan menyebabkan terjadinya kemelimpahan burung. Menurut Djuwantoko dan Hadiwinoto (1995) perubahan tegakan atau vegetasi yang berfungsi sebagai habitat satwa akan berpengaruh terhadap kehidupan satwa, baik populasi, tingkah laku, maupun perkembangbiakan. Kerusakan vegetasi akan berpengaruh terhadap jumlah individu burung. Jadi dengan adanya vegetasi dan lingkungan yang berbeda maka populasi burungpun berbeda. Burung yang dijumpai di area persawahan didominasi oleh burung pemakan biji-bijian seperti yang ditemukan di lokasi pengamatan Perum Triyagan Sukoharajo yang dihuni oleh burung pipit yang banyak. 

         Tempat hidup burung tidak jauh-jauh dari tempat makanannya. Untuk daerah yang sudah memasuki kota baik daerah keraton atau daerah di pnggir jalan raya pada pengamatan ini banyak dijumpai burung gereja erasia, hal ini dikarenakan burung gereja erasia merupakan burung non-migran dengan daya jelajah rendah (± 1,5 km2), Hidup secara berkoloni, beristirahat, mencari makan, dan berkembang biak dekat dengan permukiman manusia. Burung yang hampir ada di setiap habitat atau stasiun pengamatan yang berbeda adalah burung merpati, burung merpati ini masih banyak ditemukan di beberapa lokasi pengamatan yang berbeda. Hal ini karena burung merpati mudah menyesuaikan diri dari lingkungannya. Selain itu burung ini dapat bermigrasi jauh dan dapat kembali lagi ke tempat hidupnya dimana sebagian besar hidupnya di pelihara oleh manusia. Burung sriti juga ditemukan di beberapa stasiun pengamatan, burung ini dijumpai dalam jumlah yang banyak. Masih banyaknya burung ini karena tidak terlalu banyak manusia yang memburu burung ini, sehingga kelestariannya tetap terjaga. Selain itu juga burung sriti dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya sehingga tidak terlalu susah untuk mendapatkan habitatnya. 

          Hasil pengamatan burung juga ditentukan oleh waktu pengamatan. Pengamatan yang dilakukan pada waktu yang tepat akan dijumpai beraneka ragam burung. Karena burung pada umumnya keluar di pagi dan sore hari. Adanya keanekaragaman burung tersebut disebabkan oleh adanya vegetasi atau lingkungan yang berbeda. Sehingga burung menempati atau tidak sutu daera tergantung vegetasi yang harus sesuai dengan kebutuhannya.