Jumat, 04 Januari 2013

I am Proud to be a Family of Orang utans (part #1)


 Bismillah..
Corat coret lagi,meski ga karuan tulisannya.
Seneng, ketemu orang-orang hebat di Jambore Orangufriends 29-30 Des 12.
Center for Orang utan Protection (COP) adalah suatu komunitas untuk melindungi Orang utan dan habitatnya. Tidak hanya Orang utan, bahkan semua Wildlife. Orangufriends merupakan nama anggota COP yang memiliki tanggung jawab untuk mengkampanyekan tentang Orang utan yang memiliki tingkat kekerabatan yang sangat dekat dengan manusia, sehingga perlu dilindungi kelangsungan hidupnya, yaa layaknya teman kita. Kita harus berusaha menghargai dan membuat teman kita dapat hidup nyaman.

Jambore Orangufriends (foto:COP)
Saya sangat tertarik dengan upaya perlindungan Orang utan, karena memang semakin hari kehidupan Orang utan semakin terancam. Bagaimana tidak, pembabatan hutan untuk dijadikan lahan kelapa sawit dan  penebangan pohon untuk bahan kertas membuat kehidupan Orang utan semakin terancam. Hutan merupakan rumah bagi mereka, tempat yang paling nyaman bagi mereka. 

Ya.. seperti halnya manusia akan lebih nyaman jika berada di tempat kelahirannya. Belajar dan bermain di daerah itu, dan jika suatu saat rumah mereka digusur paksa, ya jelas manusia akan berontak dengan demo sana-sini. Orang utan yang sudah survive di hutan dari lahir akan sangat sedih jika rumahnya dihancurkan. Dan kecil kemungkinan hidupnya bila hidup liar di luar habitatnya karena ancaman di luar sangat kuat. Jika seorang manusia akan bisa membela diri sekuat tenaga, namun Orang utan ini hanya akan berlari menghindari peluru yang mengejar mereka. Kekuatan merekapun tak akan sanggup melawannya. 
Persahabatan COP dg OU (foto:glennalderson.com)
Orang utan hanya berharap pada manusia yang peduli dan menganggap mereka sebagai kawan. Sayangnya tidak banyak manusia yang peduli dan mengerti akan suara hati mereka. Materi lebih dipilih ketimbang peduli dengan tangisan Orang utan. 
Harusnya manusia tergugah saat menyaksikan atau membaca berita tentang bayi orangtan yang telah ditinggal mati oleh induknya. Mereka nggak jauh beda dengan bayi manusia, butuh susu untuk makanannya. Butuh asuhan induk untuk belajar mencari makan dan melindungi diri.
Baby OU (Foto:COP)
Orang utan mirip dengan manusia, terbukti bahawa tingkat kesamaan DNA Orang utan dengan manusia sebesar 96,4%. Adanya riset menemukan bahwa Orang utan memiliki tingkat keragaman gen yang tinggi, hal ini membuat Orang utan lebih mudah untuk beradaptasi, seperti halnya manusia. Tapi keragaman genetika ini tak banyak membantu, bila hutan habitatnya terus menyusut.
Manusia "itu" tidak hanya merusak Rumah Orang utan, tapi tanpa sadar juga merusak rumah dan kehidupan anak cucu mereka karena telah menhancurkan penyerap karbon terbesar, yang akumulasinya di tahun mendatang. Sebenernya malah Orang utan yang mampu menciptakan alat penyerap karbon, yaitu dengan menyebarkan biji-bijian dari makanan mereka ke tempat lain sehingga tumbuh pohon baru sebagi alat penyerap karbon. Tidak lain Orang utan merupakan rantai kehidupan di dalam hutan dan sangat berperan dalam melestarikan hutan.

Berawal dari Jambore Orangufriends oleh COP ini, setidaknya saya dapat ikut serta mendukung kelangsungan hidup Orang utan sebagai satwa yang dilindungi. 

"I am proud to be a family of Orang utans"
Let's Save Orang utan!!!

        And ini saya juga akan bercerita sedikit tentang perjalanan menuju JAMBORE ORANGUFRIENDS di Boro Kulon Progo.
Berawal lagi-lagi dari gentar kakak sepupu saya, yang ngasih tau tentang jambore orangufriends di Boro kulon Progo??
haaah?langsung lah saya kepo buka-buka twitter @orangutan_COP. impuls neuron syaraf saya begitu cepat menangkap,yaaa..tentang orangutan,kapan lagi bisa berkontribusi buat makhluk sekelas dengan kita ini. Apalagi subsidi dr gentarpun tanpa saya minta sudah langsung mengalir. Oke deh,saya putuskan saya ikut Jamboreorangufriends 2012.

29 Desember jam 08.15, berangkat ke Boulvard uns dan teman saya hani sudah menanti saya. Disusul alvya dan jose. Kami menunggu bis, lama lama dan lamaaaaa.
bis ac yang lewat semua udah penuh.tak ada yg berhenti satupun. Dan akhirnya kami putuskan naik bis sampai terminal tirtonadi untuk nyari bis yg ke Jogja. Berharap sekali dapat bis AC, tp takdir bis AC tidak berpihak pada kami. Akhirnya bis ekonomi dan banyaknya musisi jalanan dengan bermacam-macam aliran menemani perjalanan kami. Ceeeet macet di klaten,yaa..memang musim liburan, tp penjemputan oleh COP di terminal jombor pukul 11 tidak akan bisa diubah jamnya meski musim liburan. Sudah pasti tidak bakalan keburu jam 11 nyampai terminal jombor.

Jam 12an kami sampai di Fly Over janti,saatnya oper bis ke arah terminal Jombor,  Dengan Cuaca yang panas syaraf-syaraf saya langsung melaju menggerakkan mulut ini sehingga bisa keluar kata "Taksi".yaa..karena jaraknya dari janti ke jombor sangat jauh,dan jika naik transjogjapun kami harus berjalan jauh juga,maka taksi dengan harga nego 50ribu siap mengantar kami ke terminal Jombor.
Sekitar jam 13.00 kami sampai di terminal Jombor, dan mobil jemputan dari COP akan datang sekitar 2 jam lagi. Menunggu, Sholat, jajan di Indomart dimana kami menunggu.

Sekitar jam 15.15 mobil COP sudah terlihat, saat itu hujan deras, sementara mobil jemputan ada di sebrang jalan. Alhamdulillah, ada bapak parkir yg berbaik hati meminjamkan payungnya buat kami berempat.
Mobil mulai meninggalkan daerah Jombor menuju Boro, Kulon Progo. Bentangan sawah di kanan kiri jalan menghilangkan rasa jenuh kami saat menunggu tadi..turut bersemai pula semangat kami.

Sekitar jam 16.00 lebih...kami sampai di tempat tujuan, BORO, Kulon Progo. Mulailah kami berkenalan dengan orang2 baru. Ada peserta dan panitia dari COP yang hebat-hebat. Kami mulai berkenalan sambil beristirahat.
Akhirnya sampai dengan selamat meskipun telat tertinggal acara pembukaan.

I am proud to be a family of Orang utans
Let's Save Orang utan!!!
to be continue .....



Rabu, 12 Desember 2012

Bersarang di Pantai Sepanjang


Mbolang sabtu kemaren 8 Desember 2012 ke Pantai Sepanjang,kenapa???
Begini nih,,,(meskipun ceritanya nggak runtut dan bahasanya acak2an). Seminggu sebelumnya teman saya Burhan merencanakan mau pengamatan dan belajar tentang makanan burung pantai. Pantai sepanjang,Gunung Kidul menjadi pilihan kami,dikarenakan di sana pantainya sangat panjang, dan bibir pantainya banyak batu karang yang kemungkinan banyak hewan laut kecil semacam ikan kecil atau bivalvia yang kemungkinan adalah makanan burung pantai.  
bersama

Kami dari kelompok Studi Kepak Sayap berangkat ber Tujuh (burhan,yanuar,ocid,imam,deni, nunung maje ika novi dan saya) berangkat dari Solo jam 8.00 dengan menyusuri Sukoharjo(sritex), Tawangsari, Klaten sblh timur, dan berhubung salah jalan kami lewat Manyaran Wonogiri kemudian Wonosari,Karang Mojo,Semanu dan selanjutnya ga ngerti daerah mana. Dijalan kami disuguhi dengan bentangan sawah yang hijau dan pohon-pohon jati yang mulai keriting di santap ulet jati. Di daerah Semin-Kr. Mojo di kanan kiri jalan terlihat batu-batu hitam besar yang tersusun seperti taman alami. Dengan suguhan alam seperti itu perjalanan yang lama dan berkelok kelok tidak begitu kami rasakan capeknya. Ditambah lagi Sampai di karang mojo temen kami Nunung teriak karena liat sekretariat GOA PINDUL,dan banyak tulisan tulisan “Antar Goa Pindul Gratis”,hwaaa....pengen teriak rasanya ^_^

Perlu diketahui,goa pindul merupakan tempat yg ingin sekali kita kunjungi dan belum juga terwujud,shg saat liat tulisan goa pindul 5km lg dr jalan yg kita lintasi,kami bener2 kaget...dan berhubung keterbatasan waktu dan dana dr semua team perjalanan ini,salah satu dr temen saya bilang di perempatan semanu pas lampu merah ''Pindul Next Trip nisa''..yaa benar,itu kata-kata penyemangat dan saya sangat berharap bisa kesana bareng-bareng.
Pantai Sepanjang

lanjuuuut...Sampai di pantai Sepanjang jam 10.30, sampai sana Burhan keluarin matras,naruh barang-barang dan langsung explorasi hewan-hewan yang diduga sebagai makanan burung pantai. Pas banget saat itu di pantai airnya baru surut and terlihat burung pantai berwarna putih,setelah dicocokkan dg kitab perburungan kami Mac Kinnon yaitu burung kuntul karang putih (Egeratta sacra) dengan bulu warna putih, paruh pucat,dan tungkainya aga kehijauan relatif pendek... kuntul karang putih ini terlihat mencari makanan di karang-karang yang airnya sedang surut,kemungkinan burung burung pantai ini memakan ikan ikan kecil,........

Egeratta sacra mencari makanan

Pengambilan sampel makanan burung yang kita dapat berupa ikan ikan kecil,kepiting,kuda laut, kelompok bivalvia dan teripang. Setelah pengambilan sampel kami istirahat untuk makan siang. Sampel yang diambil cukup sedikit saja asal spesiesnya beragam. Untuk makan siang kami membawa bekal dr Solo dan dilengkapi dengan membuat mie dengan kompor parafin,maknyussss..berasa banget ngiritnya,padahal di samping basecamp kami warung makanan hihihihih.
Lunch seadanya..

Gelas Sampel


Kami bersantai-santai disana sambil melihat-lihat di sekeliling pantai mencari cari burung pantai yang jarang muncul. Ada sih burung yang sering banget muncul,tp tidak mendekat ke darat, kalau tidak keliru adalah burung kuntul karang,terlihat hanya berwarna hitam. Tidak begitu jelas,karena sangat jauh dr pantai.

Jam 12.30 tepat di depan tempat kami duduk-duduk melintas burung besar berwarna hitam di bagian atas dan putih dibagian bawah. Kami mencoba mengabadikan lewat kamera dan berlari mengejar ke arah burung itu hinggap. Ternyata burung itu tidak takut dengan kerumunan kami yang mencoba mendekatinya.  Pastinya foto dengan burung liar dengan jarak yang begitu dekat kami lakukan,jarang-jarang di alam bisa foto sedekat itu.hahaha
Sula leucogaster atau Angsa Batu Coklat
Sula leucogaster atau Angsa Batu Coklat

kami mencoba mengidentifikasi burung tersebut, ada sedikit kesulitan, karena di Mac kinnon jika hanya dilihat dr warna tidak ada yg sama,tapi dilihat dari bentuk dan kemungkinan burung ini sedang tahap breeding atau tidak,junenile atau dewasa, dan tentu saja tingkah lakunya maka kami menyimpulkan itu burung Pecuk padi hitam immature (Phalacrocorax sulcirostris), tetapi setelah di lihat benar-benar dan dicocokkan dengan sumber lain, burung ini adalah Sula leucogaster atau Angsa Batu Coklat. Nama internya yg saya baca adalah brown booby . Burung ini berwarna hitam kecoklatan pada bulu atasnya, perut dan sayap di bagian bawah putih.
identifikasi
narsis

Saat itu juga kami sangat kecewa dengan warga disekitar pantai ada yang membawa tali untuk menangkap burung jinak ini, kami berusaha melarang,dan ibu yang mau menangkap burung ini tetap saja berusaha melemparkan talinya ke kepala burung,syukurlah akhirnya misi ibu tadi gagal,dan kami mengusir burung tersebut untuk terbang ke tempat lain. Kesadaran warga sekitar mengenai satwa liar sama sekali belum ada.hmmmmm...

Saat burung pecuk padi sudah terbang kami kembali ke basecamp dan berdiskusi kembali(ciaaaaah...). Sampai sekitar habis ashar para pria dr team petualngan kami(hihihi) memutuskan untuk jeguran,nyebur ke air..mereka bermain air dengan teman2 lain yang dari kelompok fikologi yg datangnya menyusul untuk kuliah lapangan. Ada hal yang membuat saya bangga kpd temen2 cowok tim Kepak Sayap ini, dalam bermain air mereka tdk hanya sekedar bermain, tetapi juga mengumpulkan sampah plastik yang terbawa air laut. Hal ini patut dicontoh dan bener2 mengetuk hati saya (sedikit lelelelebayy ga papa). Sampah yang dikumpulkan lumayan banyak, karena memang terlihat di pantai sepanjang ini tdk begitu banyak tempat sampah yang disediakan, dan himbauan untuk membuang sampah pada tempanyapun saya tidak melihatnya. Yaa semoga ada perbaikan dan kesadaran masyarakat sekitar dan pengunjung untuk bisa menjaga lingkungan alam kususnya laut kita yang indah ini.
Berburu sampah
Pengumpulan sampah


Setelah sampah terkumpul, Puas bermain air,  mataharipun mulai terlihat meredup,kami bersiap untuk meninggalkan tempat yang indah itu,Pantai Sepanjang telah memberikan banyak pelajaran bagi kami. Baik dr segi ilmu pengetahuan, lingkungan, kekompakan, maupun kepedulian.

Jam 16.30 packing selesai dan acara pada hari itu ditutup dengan doa dan foto bersama.
Alhamdulillahirabbilalamin 

***Foto oleh Kepak Sayap***

Rabu, 28 November 2012


Kamis 29 November 2012..Harus nya jam sekarang ini adalah kuliah Fitogeografi. Jam pertama dihari kamis dimulai dari jam setengah delapan. Tapi nunggu lama banget sampe kedinginan gini dosen yang termasuk dosen yg saya favoritkan itu belum dateng juga. Padahal udah berangkat buru-buru, spesial untuk kuliah Fitogeografi ini. Beliau yang merupakan dosen ke 2 mata kuliah Fitogeografi tu bersahaja, agamis, profesor pula dan kerennya tuh dengan gelarnya itu beliau tetep terlihat sangat sederhana. Udah ga muda lagi layaknya guru-guru olah raga SMA yang di goda2in murid –murid cewek, beliau sangat berbeda, pokoknya berkharisma banget. Astaghfirullah, semoga kekaguman iniitidak berlebihan. Semoga beliau bisa membawa mahasiswanya untuk dapat menerapkan ilmu yang beliau berikan bagi kemanfaatan bersama.

           Sambil nunggu dosen dateng, mending saya nulis aja kali ya.dpt dikit ya ga pa2 lah ^__^  sedikit pengertian Fitogeografi. Fitogeografi merupakan studi dan deskripsi tentang perbedaan fenomena distribusi tumbuhan di bumi, mencakup semua hal yang mengubah atau mempengaruhi permukaan bumi, baik oleh pengaruh fisik, iklim atau interaksi dari makhluk hidup ke lingkungannya, pengertian ini menurut Potunin (1994). Disini kita dapat belajar tentang Bioma, Formasi, Vegetasi, dan sifat2 tumbuhan dalam menyesukan lingkungannya. Dari Formasi kita bisa tau distribusi tumbuhan dengan dipengaruhi kondisi iklim dan edafik, seperti di kawasan hutan Cemoro Sewu, menurut (Mifta, 2005) disana ada 19 jenis yang terbagi 2 divisio yaitu divisio Pteridophyta (paku-pakuan) dan Spermatophyta (tumbuhan yang secara alami berkembang biak dengan menggunakan biji) .

           Sekalian mau ngepost foto tentang vegetasi yang pernah saya lihat di daerah Plaosan Magetan yang saat kemaraupun masih terlihat hijau pada tanggal 28 Oktober 2012


Jalan Tembus

ini terlihat dari warung makan mbh moOO










Foto by aku






Selasa, 30 Oktober 2012

Goa Lawa "Biggest Cave in ASEAN"

           26 Oktober 2012 Solo---Karang Anyar---Magetan---Madiun---Caruban---Nganjuk---Kediri---Tulung Agung dengan ms Gentar,Zaki,Alfi.Touring to East Java.
Perjalanan yang panjang, berangkat jam 04.30 dan sampai Tulung Agung jam 11.15. Dengan dibumbui shalat Iedul Adha di Magetan dan perjalanan dengan terik matahari yg membakar aspal.Yaa begitulah singkat ceritanya.
              Intinya mau cerita Goa Lawa, dah gatel aja pengen cerita pesona Goa Lawa.
Hari kedua di Tulung Agung tempat pakpuh (pakdhe), Sabtu 27 Oktober kakak saya mas gentar ngajak kami bertiga melihat keindahan goa lawa sambil dia ngambil foto, entah apa istilahnya memfoto2 keindahan goa dengan kamera besarnya itu. Berangkat dari rumah jam 10.00 kami berangkat dari rumah dan menyusur jalan menuju daerah trenggalek hingga akhirnya sampai parkiran goa lawa sekitar jam 11.00. Sekitar 1 jam lah ditempuh dg mobil dari tulung agung tempat ms gentar  sampai goa lawa
        
      Goa Lawa ini berada di desa Watuagung, kecamatan Watulimo, kabupaten Trenggalek. Goa ini merupakan goa pariwisata yang memiliki panjang kurang lebih 850 meter, namun belum banyak yang tau untuk orang orang yang dari luar kota. Turun dari mobil kami disuguhi oleh pohon-pohon jati yang masih lebat. Terlihat sekali bahwa kawasan ini masih sangat dijaga kealamian vegetasi di sekitar goa. Hal ini sangat baik dalam menjaga kondisi tanah agar tidak terjadi longsor dan udarapun akan terasa lebih sejuk. Taman buatanpun masih sedikit disini.Keren deh...
         Tiket masuk per orang sebesar Rp. 6000. Setelah beli tiket masuk, kami lebih masuk ke dalam mendekati goa, dan masih disuguhi vegetasi jati yang semakin lebat dan di bawahnya di lengkapi dengan perlengkapan mainan anak seperti ayunan, perosotan dll. Di dekat pintu masuk terdapat Patung Sri Ratu Lowo(kata blog sebelah),dan foto di sana pun tak terlewatkan bagi saya.hihihiih. Semakin mendekati goa di kanan kiri tempat kami berjalan banyak batu batu besar yang masih alami serta udara gunung yang masih segar. Terdapat batu yang sangat besar menggantung di atas tangga turun masuk ke gua. hmmm..Oke bgt lah penataannya.
         Alhamdulillah...sampai di mulut gua. Jangan lupa baca dan taati tata tertib yang ada :

        Dari mulut goa sudah terlihat sekali kalau goa ini sangat besar. Masuk ke dalam gua mulai terlihat stalagtit dan stalagmit yang begitu berbeda dengan goa2 yang pernah saya kunjungi. Dari beberapa informasi stalagtit dan stalagmit ini masih hidup dalam artian masih mampu bertambah panjang, ini dikarenakan adanya rembesan air dari tanah yang berada di atas gua yang mengandung kapur, sehingga mampu mengaktifkan stalagtit dan stalagmit untuk bertambah besar atau panjang, dan semakin memasuki goa,kususnya pada ujung tetesan air itu masih sangat berasa hingga membasahi baju.
 
         









               
Semakin ke dalam semakin terlihat aliran air yang berada di kanan kiri tempat kami berjalan. Karena musim kemarau alirannya tidak begitu deras. Namun disayangkan sekali, disekitar aliran air ini banyak sekali sampah sampah plastik ataupun kain yang tersangkut di batu batu lantai goa. Hal ini memperlihatkan kurang bersihnya sungai di kawasan trenggalek. Sehingga mengurangi estetika goa yang pada dasarnya sangat menarik.Yaaa,,menurut saya demi keindahan dan kesehatan sebagian retribusi di alokasikan untuk membersihkan area sampah yang ada di goa. Karena permasalahan sampah memang seharusnya cepat ditangani. Daripada kedepannya membuat goa ini terendam air seluruhnya karena sampah..(waduh keluar dari konteks)
        Semakin banyak kaki inin melangkah memasuki goa saya merasakan suatu bau (semacam bau apek) yang mengusik hidung, kata alvi teman kami itu adalah bau kotoran kelelawar. Tapi baunya tidak begitu menyengat, dan bukan suatu permasalah untuk aroma di dalam goa. Dari sumber yg saya baca, kotoran kelelawar ini diambili oleh petugas pada malam hari pada tempat tempat tertentu,jadi baunya nggak begitu mengganggu....Memang di goa ini terdapat kelelawar yang sangat banyak.Makanya goa ini diberi nama Goa Lawa (lawa=kelelawar) O iya..hewan nocturnal ini tidak begitu terganggu karena adanya penerangan di dalam goa,karena memang penerangan di goa ini tidak begitu terang, sehingga lampu lampu kecil tidak begitu mengusik habitat mereka.
        Di tengah perjalanan menyusuri goa terdapat ruangan besar yang bertuliskan tempat istirahat, yang dapat melihat ke arah bawah yang di lewati tadi (karena agak naik ke atas). Terlihat stalagtit dan stalagmit yang bermacam macam bentuknya. Hingga kamera kakak sayapun tak bisa off.yuuuk bergaya....^__^
        Perjalanan dilanjutkan, jalannya aga turun dan disana semakin terdengar bunyi kelelawar, karena memang di atas goa terdapat lobang kecil, sehingga matahari langsung dapat sedikit menyinari goa dadari lobang ini kelelawar keluar masuk goa. Ini yang membuat suasana goa semakin indah,chiee...
Meskipun ada sedikit penyinaran (sedikit sekali lho,,lobang kecil) di dalam goa ini tidak ditumbuhi oleh tumbuhan bahkan tumbuhan airpun. Karena intensitas cahaya matahari yang tidak ada(sangat sangat sdikit) tidak mampu menghidupkan tanaman.
          Dan akhirnya...."MAAF SEMENTARA KUNJUNGAN GOA SAMPAI DISINI"(himbauan,kurang lebih bertuliskan seperti itu). Itu tandanya kami sudah sampai di ujung goa,maksudnya di ujung jalan goa,,soalnya kalau di teruskan masih bisa disusuri lagi, hanya saja jalannya belum di bangun. Disini kami berhenti lama, ketiga teman saya turun untuk melihat kondisi yang belum dibangun jalannya itu, yaa wajar mereka anak MAPALA yang sangat interest dengan keindahan goa,kususnya goa yg masih alami. Lamaaa banget....karena memang mereka jeprat-jepret mengabadikan kenampakan di ujung goa dengan berbagai perlengkapan kamera yang saya ga mudheng. Cukup lah saya mengamati dengan sedikit aga bosen karena menunggu..^___^
            Setelah lamaaa...akhirnya kami keluar, dan berbincang bincang dengan penjaga goa nya. Ada informasi bahwa di sekitar sini masih banyak goa-goa, salah satunya adalah goa yang suka digunakan untuk bertapa(namanya lupa).
             Alhamdulillah..PULAAAAANG...dan tidak lupa beli es tebu, yang di solo  sangat jarang ditemukan.

#Foto by Gentar & Alvya